Pengertian Pertumbuhan Penduduk Serta Dampaknya Terhadap MEA Bagi Indonesia

Kondisi Negara berkembang sangat berbeda dengan kondisi Negara maju. Di Negara berkembang (termasuk Indonesia) jumlah capital terbatas dan yang melimpah justru jumlah penduduknya. Karena itu pertumbuhan penduduk justru dianggap berdampak buruk bagi perekonomian dari berbagai segi.

Terlebih akan terjadinya pasar bebas ASEAN .  Dimulainya MEA 2015 tersebut tentu akan memberikan dampak positif dan negatif bagi Indonesia. Dampak positifnya adalah MEA 2015 akan memacu pertumbuhan investasi dari dalam maupun luar negeri.

Pertumbuhan Penduduk dan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)

Kependudukan

Pengertian penduduk adalah mereka, sekelompok orang yang tinggal atau menetap dalam sebuah wilayah atau daerah negara .

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Di dalam pertumbuhan penduduk mempunyai 3 faktor yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan migrasi. Dalam pertumbuhan penduduk apabila kualitas hidup dari masyarakat itu baik maka pertumbuhan penduduk itu tidak akan membawa permasalahan dalam suatu Negara.

Pertumbuhan penduduk terdiri dari 4 periode.

1. Periode I

Pada periode ini pertumbuhan penduduk berjalan dengan lambat yang ditandai dengan adanya tingkat kelahiran dan kematian yang rendah sehingga disebut periode statis.

2. Periode II

Tahap kedua ini angka kematian mulai turun karena adanya perbaikan gizi makanan dan kesehatan. Akibat dari itu semua pertumbuhan penduduk menjadi cepat mengingat angka kelahiran yang masih tinggi.

3. Periode III

Periode ini ditandai dengan tingkat pertumbuhan penduduk mulai turun. Tingkat kematian pada periode ini stabil sampai pada tingkat rendah dan angka kelahiran menurun, penyebabnya antara lain adanya pembatasan jumlah anggota keluarga.

4. Periode IV

Pada masa ini tingkat kematian stabil, tetapi tingkat kelahiran menurun secara perlahan sehingga pertumbuhan penduduk rendah. Periode ini di sebut periode penduduk stasioner. Dari empat periode di atas, pertumbuhan penduduk Indonesia berada pada periode kedua dan sekarang sedang menuju periode ketiga


Rumus pertumbuhan penduduk 

Pm = I – E 
Keterangan:
Pm = Pertumbuhan penduduk migrasi
I     = Jumlah imigrasi
E    = Jumlah emigrasi

Dampak Masalah Pertumbuhan Penduduk Terhadap Pasar Bebas MEA Di Indonesia

Pengertian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang dianut dalam Visi 2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada dan baru dengan batas waktu yang jelas. 
Di era globalisasi seperti ini, tentu bany¬ak negara yang saling bekerja sama. Hal ini pula yang terjadi dengan negara-negara yang terga-bung dalam ASEAN (Association of Southeast Asian Nations).

Pada KTT ASEAN ke-9 di Bali, seluruh kepala negara yang tergabung dalam ASEAN menyepakati pembentukan komunitas ASEAN dalam berbagai bidang yang dikenal dengan Bali Concord II yang akan diberlakukan mulai tahun 2015.

Komunitas ASEAN sering disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA adalah salah satu pilar-pilar impian masyarakat ASEAN.

Hal-hal yang diharapkan dari MEA an¬tara lain:
1) Pasar tunggal dan kesatuan basis pro¬duksi
2) Kawasan ekonomi yang berdaya saing
3) Pertumbuhan ekonomi yang merata
4) Mening¬katkan kemampuan untuk berintegrasi dengan perekonomian global.

Dari ketentuan tersebut, nantinya perdagangan barang, jasa, modal dan investasi akan bergerak bebas seakan tidak ada halangan secara geografis.  Dimulainya MEA 2015 tersebut tentu akan memberikan dampak positif dan negatif bagi Indonesia.

Dampak positifnya adalah MEA 2015 akan memacu pertumbuhan investasi dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, In-vestasi dalam negeri berpotensi akan meningkat yang akan menambah jumlah lapangan kerja da¬lam negeri.

Bertambahnya lapangan kerja di Indonesia akan menambah kesempatan kerja bagi tenaga kerja Indonesia. Peluang kedua adalah penduduk Indonesia dapat mencari pekerjaan di luar negeri dengan aturan yang lebih mudah.

Dampak negatifnya adanya pasar barang dan jasa secara bebas khususnya pada ketenagakerjaan adalah persaingan tenaga kerja semakin ketat karena tenaga kerja asing akan masuk ke Indonesia. Hal inilah yang akan menambah pelik masalah ketenagakerjaan di Indonesia.

Secara kuantitas, jumlah penduduk Indonesia memang jauh lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara lain dalam ASEAN. Namun, persaingan secara kuantitas tidak akan memenangkan persaingan ketika kualitas masih jauh dibawahnya.

Oleh karena itu, masalah tenaga kerja Indonesia bukan hanya menyangkut jumlah dan kesempatan kerja saja, melainkan juga kualitasnya yang masih rendah . Maka perlu adanya evaluasi terhadap tenaga kerja Indonesia sebagai upaya meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.

Hal tersebut dilakukan agar tenaga kerja Indonesia mempunyai daya saing yang tinggi dengan tenaga kerja asing di pasar lokal maupun pasar global. Tetapi sebagai bangsa yang besar, kita harus tetap optimis bahwa MEA 2015 akan meningkatkan perekonomian kita seperti visi ASEAN : One Community, Many Opportunities.

Masalah yang Dihadapi Tenaga kerja Indonesia. Ketika kita membicarakan suatu masalah tentu ada ketimpangan antara kenyataan dengan harapan. Oleh sebab itu, ketika kita membahas mengenai masalah tenaga kerja Indonesia maka ada ketimpangan antara permintaan dan pe-nawaran tenaga kerja.

Pengertian Pertumbuhan Penduduk Serta Dampaknya Terhadap MEA Bagi Indonesia

Dari penjelasan tersebut kita akan menguraikan faktor-faktor yang menjadi masalah tenaga kerja Indonesia yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam dunia kerja , yaitu :

1. Kurangnya Kesempatan Kerja

Saat ini, jumlah lapangan pekerjaan di In¬donesia masih belum mampu menyerap seluruh angkatan kerja yang berakibat masih adanya pen-gangguran baik itu pengangguran yang terdidik maupun tidak terdidik. Hal tersebut juga dipen¬garuhi adanya krisis global yang mengakibatkan produksi barang/jasa perusahaan mengalami pe¬nurunan yang berdampak langsung pada pengu¬rangan jumlah tenaga kerja.

Belum seimbangnya permintaan dengan penawaran tenaga kerja serta penurunan pro¬duktivitas secara langsung akan mengurangi kesempatan kerja bagi angkatan kerja. Adanya pertumbuhan ekonomi yang diklaim beberapa tahun terakhir meningkat 6,4 persen di kuartal II ternyata tidak berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja.

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan dari Muhaimin Iskandar :
Namun tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut tidak dapat menyerap angkatan kerja yang masuk ke dalam pasar kerja dan jumlah penganggur yang telah ada.” 
Oleh sebab itu yang mempengaruhi kesempatan kerja adalah permintaan tenaga kerja dan pro¬duktivitas rumah tangga produsen.

2. Perubahan Industri dari Padat Karya menjadi Padat Modal

Tidak dapat dipungkiri bahwa Industrilisasi sudah menjadi bagian dari perekonomian Indonesia. Hal ini juga identik dengan perkembangan teknologi yang akan merubah pola yang sudah terbangun.

Seperti pada dunia Industri saat ini, banyak perusahaan yang lebih memilih menggunakan pola padat modal daripada padat karya dengan berbagai pertimbangan.  Investasi yang menjorok pada padat modal akan menjadi ancaman bagi tenaga kerja Indonesia karena akan memperkecil kesempatan kerja.

Hal tersebut juga akan menambah jumlah pengangguran dalam negeri. Oleh sebab itu, untuk negara berkembang seperti Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak di Asia Tenggara, investasi dengan sistem padat modal akan mengancam tenaga kerja.

Globalisasi arus barang dan jasa. Permasalahan ini juga terkait dengan bi-dang ketenagakerjaan. Pada MEA 2015 tenaga kerja asing dapat bebas keluar masuk Indonesia.

Seperti yang disampaikan oleh Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Kemenakertrans RI Reyna Usman saat membacakan sambutan Menakertrans Muhaimin Iskandar di acara UI Career & Scholarship Expo XV 2013.
”Suatu negara tidak dapat begitu saja menolak masuknya tenaga kerja asing apabila telah masuk dalam aturan perdagangan dunia, yang telah disepakati secara bilateral maupun multilateral.''
Ketika kita telah menyetujui adanya masy¬arakat ekonomi ASEAN ini, nantinya Indonesia juga akan dibanjiri produk luar negeri. Apabila produk dalam negeri tidak dapat bersaing dengan produk luar negeri maka tenaga kerja Indonesia juga akan terancam.

Menurunnya produktivitas rumah tangga produsen membuat mereka cenderung mengurangi biaya produksi, yang dapat diartikan mengurangi jumlah tenaga kerja. Inilah yang menjadi ancaman bagi tenaga kerja Indonesia.

3.Penetapan upah minimum

Saat ini upah menjadi polemik antara pengusaha dengan tenaga kerja atau buruh. Belum ada kesepakatan mengenai upah minimum tenaga kerja karena berbagai hal. Perusahaan masih keberatan dengan upah minimum yang telah ditetapkan sedangkan buruh menuntut adanya kenaikan upah/gaji.

Meskipun pemerintah telah memutuskan menaikkan upah minimum tetapi perusahaan belum membayar upah sesuai dengan ketentuan tersebut. Upah tenaga kerja akan mempengaruhi permintaan dan penawaran tenaga kerja.

Ketika tenaga kerja menginginkan upah yang besar perusahaan cenderung merubah sistem produksi dengan padat modal namun ketika upah tenaga kerja tidak ditingkatkan kesejahteraan tenaga kerja juga sulit ditingkatkan. Inilah yang menjadi masalah kompleks tenaga kerja.

Namun, menurut Mankiw, teori upah efisiensi mengajukan penyebab ketiga dari kekakuan upah selain UU upah minimum dan pembentukan serikat pekerja, teori ini menyatakan bahwa : Upah yang tinggi akan membuat pekerja semakin produkstif.

Upah yang tinggi akan menurunkan perputaran tenaga kerja. Kualitas rata-rata dari tenaga kerja perusahaan tergantung pada upah yang dibayar kepadakaryawan. Upah yang tinggi meningkatkan upaya tenaga kerja.

Dari teori mankiw tersebut, setidaknya dapat dipertimbangkan oleh rumah tangga produsen dalam menentukan upah minimum tenaga kerja karena menaikkan upah minimum tenaga kerja bukan berarti merugikan rumah tangga produsen karena dapat meningkatkan roduktivitas tenaga kerja.

4. Rendahnya Kualitas SDM

Rendahnya kualitas tenaga kerja tentu akan mempengaruhi daya saing dari tenaga kerja itu sendiri, seperti yang dimuat dalam suara pembaharuan yang diakses tanggal 15 April 2013 bahwa World Economic Forum (WEF) dalam surveinya pada 2010 mencatat, peringkat daya saing Indonesia di posisi 44.

Posisi itu di bawah sejumlah negara pesaing utama kita di Asia Tenggara, seperti Singapura di peringkat 3, Malaysia (26), dan Thailand (38). Daya saing Indonesia juga di bawah macan ekonomi global Tiongkok di posisi 27.

Rendahnya kualitas tenaga kerja dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang. Dan menurut data Badan Pusat Statistik bahwa pada tahun 2012 bulan agustus jumlah pengangguran terbuka dari seluruhnya 7.244.956 jiwa, pengangguran terbuka pada tingkat SLTA (umum) mencapai 1.832.109 jiwa.

Tentu hasil survey ini cukup memprihatinkan ketika pendidikan SLTA/sederajat dirasa telah cukup untuk menjadi bekal mereka bekerja ternyata penyerapan dalam dunia kerja masih kurang besar.

5. Ketakutan Tenaga Kerja Indonesia Menghadapi Tenaga Kerja Asing

Masalah yang lain bagi tenaga kerja Indonesia adalah kurang percaya dirinya mereka apabila berhadapan dengan tenaga kerja asing. Gambaran mengenai tenaga kerja asing yang lebih handal, cerdas, dan berkompetensi membuat tenaga kerja Indonesia merasa kecil hati.

Sikap dan mental dari tenaga kerja inilah yang juga harus diperbaiki supaya dalam menghadapi MEA 2015 ini, masyarakat Indonesia khususnya tenaga kerjamaupun angkatan tenaga kerja tidak ragu dan merasa kurang daripada tenaga kerja asing.

Pemerintah juga telah berusaha agar keresahan masyarakat Indonesia dalam menghadapi MEA 2015 tidak menjadi suatu ketakutan yang luar biasa. Telah ada aturan yang mengatur tenaga kerja asing di Indonesia yaitu Keputusan Menakertrans Nomor 40 Tahun 2012 tentang Jabatan-jabatan Tertentu yang Dilarang Diduduki Tenaga Kerja Asing.

Aturan yang mengacu pada Pasal 46 Undang- Undang Ketenagakerjaan ini bertujuan mengantisipasi globalisasi sektor jasa atau tenaga kerja pada masa depan. Adanya peraturan tersebut sedikit membuat tenaga kerja kita terlindungi. Pengaruh MEA 2015 Terhadap Ketenagakerjaan Indonesia.

6. keahlian rendah (low-skilled).

MEA 2015 juga menuntut tenaga kerja Indonesia mempunya keahlian yang lebih dari rata-rata agar bisa bersaing dengan tenaga kerja asing dari negara-negara tetangga. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan kualitas dari tenaga kerja Indonesia.

7. Peningkatan Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia

Dari masalah-masalah yang dihadapi tenaga kerja Indonesia, maka perlu adanya perbaikan dan penyempurnaan dari hal-hal yang telah ada. Kembali kepada daya saing tenaga kerja Indonesia, tentu harus ada perbaikan mutu atau kualitas dari tenaga kerja itu sendiri.

Harus ada nilai lebih yang ditawarkan oleh tenaga kerja Indonesia kepada penyedia kerja agar dapat dipertimbangkan di pasar lokal maupun global bukan sebagai TKI dengan kemampuan rendah.

Selain itu pula dampak permasalahan pertumbuhan penduduk di Indonesia terhadap pasar MEA ini dapat terlihat bahwa nyatanya  Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak di Asia Tenggara.

Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga jumlah angkatan kerja juga terus meningkat. Hal tersebut menimbulkan masalah ketenagakerjaan karena tidak adanya keseimbangan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja dalam negeri. Akan dimulainya MEA 2015 akan memberikan dampak positif dan negatif bagi Indonesia.

 Liberalisme pasar bebas barang dan jasa akan memacu investasi dalam negeri dan menarik tenaga kerja asing ke Indonesia. Masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia dimungkinkan dapat menjadi ancaman apabila tenaga kerja Indonesia tidak mempunyai daya saing yang sebanding.

Oleh karena itu, peningkatan daya saing tenaga kerja harus dilakukan jauh hari sebelum MEA 2015 benar-benar dimulai. Hal tersebut dapat di antisipasi dengan mengkorelasikan input penunjang tenaga kerja sehingga tenaga kerja Indonesia memiliki kesiapan mental dan kemampuan.

Tantangan yang dihadapi oleh Indonesia memasuki integrasi ekonomi ASEAN tidak hanya yang bersifat internal di dalam negeri tetapi terlebih lagi persaingan dengan negara sesama ASEAN dan negara lain di luar ASEAN seperti China dan India.

 Tantangan lainnya adalah laju inflasi Indonesia yang masih tergolong tinggi dibandingkan dengan Negara lain di kawasan ASEAN. Kemampuan bersaing SDM tenaga kerja Indonesia harus ditingkatkan baik secara formal maupun informal.

Untuk itu, Indonesia harus dapat meningkatkan kualitas tenaga kerjanya sehingga bisa digunakan baik di dalam negeri maupun intra-ASEAN, untuk mencegah banjirnya tenaga kerja terampil dari luar.

Salah satu tantangan besar dunia pendidikan nasional kita adalah menanamkan kesadaran kolektif sebagai bangsa yang perlu berjuang keras untuk mencapai kemajuan, mengejar ketertinggalannya dari Negara-negara lain dalam banyak aspek.

Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Berbeda dengan sumber daya alam yang jumlahnya terbatas dan cenderung jumlahnya semakin berkurang., sumber daya manusia jumlahnya terus meningkat.

Kita mengetahui bahwa dari tahun ke tahun jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah, hal ini diperkuat dengan data dari Badan Pusat Statistik yang diakses tanggal 10 April 2013 bahwa jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 194.754.808 jiwa, tahun 2011 adalah 206.264.595 jiwa dan tahun 2012mencapai 237.641.326 jiwa.

Data diatas menunjukkan bahwa sumber daya manusia di Indonesia jumlahnya terus meningkat. Hal ini berbanding terbalik dengan data jumlah perusahaan menurut sub-sektornya pada tahun 2008 adalah 25.694, tahun 2009 adalah 24.468 dan tahun 2010 adalah 23.345.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja tidak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk.Pernyataan tersebut diperkuat dengan teori Thomas Robert Malthus bahwa manusia berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Manusia berkembang sesuai dengan deret ukur, sedangkan produksi makanan hanya meningkat sesuai dengan deret hitung. Hal inilah yang menyebabkan suatu kesenjangan antara permintaantenaga kerja dan penawaran tenaga kerja sehingga memunculkan pengangguran.

Secara kuantitas, jumlah penduduk Indonesia memang jauh lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara lain dalam ASEAN. Namun, persaingan secara kuantitas tidak akan memenangkan persaingan ketika kualitas masih jauh dibawahnya.

Oleh karena itu, masalah tenaga kerja Indonesia bukan hanya menyangkut jumlah dan kesempatan kerja saja, melainkan juga kualitasnya yang masih rendah (Mamat Ruhimat dalam Jurnal Mobilitas Tenaga Kerja Indonesia dalam Era Globalisasi: 2011).

Maka perlu adanya evaluasi terhada tenaga kerja Indonesia sebagai upaya meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia. Hal tersebut dilakukan agar tenaga kerja Indonesia mempunyai daya saing yang tinggi dengan tenaga kerja asing di pasar lokal maupun pasar global.

Tetapi sebagai bangsa yang besar, kita harus tetap optimis bahwa MEA 2015 akan meningkatkan perekonomian kita seperti visi ASEAN: "One Community, Many Opportunities".

Dengan bebas masuknya tenaga kerja antar Negara menyebabkan persaingan akan kualitas, dan kompetensi  sangat di butuhkan bagi SDM Indonesia . Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa.

Para tenaga kerja dari negara MEA yang memiliki kompetensi kerja yang lebih tinggi, tentunya akan memiliki kesempatan lebih luas untuk mendapatkan keuntungan ekonomi di dalam MEA.

 Dengan demikian, kita harus berusaha dengan sunguh-sunguh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, khususnya di kawasan ASEAN.

Meningkatkan kualitas SDM harus diarahkan pada penguasaan iptek untuk menopang kegiatan ekonomi agar lebih kompetitif. Pemenuhan SDM yang berkualitas dan unggul, karena menguasai iptek, akan berpengaruh terhadap struktur industri di masa depan.

Dan apabila sasaran di atas bisa dipenuhi, akan semakin kuat basis industri yang sedang dibangun dan dikembangkan di Indonesia, yang pada gilirannya akan mendorong transformasi struktur ekonomi secara lebih cepat.

0 Response to "Pengertian Pertumbuhan Penduduk Serta Dampaknya Terhadap MEA Bagi Indonesia"

Post a Comment

wdcfawqafwef