Loading...

Pengertian Zakat Produktif dan Cara Pengelolaannya Menurut Qur'an dan Hadits

Loading...
Loading...
Zakat merupakan iuran wajib yang harus ditunaikan oleh semua umat muslim bagi yang mampu yang disebut muzakki, untuk diberikan kepada orang berhak yaitu mustahiq. Dalam Al-Quran telah ditentukan 8 asnab yang berhak menerima zakat. Tapi pembahasan kali ini akan mengkaji bagaimana zakat tersebut yang fungsi awalnya sebagai pemberian yang bersifat konsumtif akan dijadikan zakat produktif. Yang diharapkan bagi yang menerima zakat tersebut dimasa yang akan datang menjadi muzakki dan tidak menjadi mustahik lagi.

Zakat Produktif dan Cara Pengelolaannya

Zakat menurut bahasa adalah kata dasar (mashdar) dari zaka yang artinya berkah, tumbuh, subur, suci, dan baik.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengertian zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan untuk orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya, menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara'. Sedangkan kata produktif adalah banyak mendatangkan hasil.

Zakat Produktif

Pengertian Zakat produktif adalah dana zakat diberikan kepada seseorang atau sekelompok masyarakat untuk digunakan sebagai modal kerja. Kata produktif dalam hal ini merupakan kata sifat dari kata produksi. Kata ini akan jelas maknanya apabila digabung dengan kata yang disifatinya.

Dalam hal ini kata yang disifati adalah kata zakat, sehingga menjadi zakat produktif yang berarti zakat dimana dalam penggunaan dan pemanfaatan harta zakat atau pendayagunaannya bersifat produktif lawan dari konsumtif.

Zakat produktif didefinisikan sebagai zakat dalam bentuk harta atau dana zakat yang diberikan kepada para mustahiq yang tidak dihabiskan secara langsung untuk konsumsi keperluan tertentu, akan tetapi dikembangkan dan digunakan untuk membantu usaha mereka, sehingga dengan usaha tersebut mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup secara terus menerus.

Jadi, zakat produktif adalah pemberian zakat yang dapat membuat para penerimanya menghasilkan sesuatu secara terus menerus dengan harta zakat yang diterimanya.

Menurut Rofiq penditribusian zakat ada 2 macam yaitu

1) Pendistribusian / pembagian dalam bentuk konsumtif untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.

2) Pendistribusian dalam bentuk dana untuk kegiatan produktif.6

Pengertian Zakat Produktif dan Cara Pengelolaannya Menurut Qur'an dan Hadits

Dasar Hukum Zakat Produktif

Al Qur’an

Pentingnya zakat secara mendasar digambarkan dalam ayat sebagai berikut:

Sesungguhnya orang-orang Yang beriman dan beramal soleh, dan mengerjakan sembahyang serta memberikan zakat, mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada kebimbangan (dari berlakunya sesuatu Yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berdukacita
(QS. Al-Baqarah : 277).
Pengertian Zakat Produktif dan Cara Pengelolaannya

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Hadist

Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas ra. Bahwa tatkala nabi SAW mengutus Muadz bin Jabal ra, untuk menjadi qadli di Yaman, beliau bersabda:

ُ عن ابن عباس رضي اهلل عنهما : ان النيب ص م بعث معاذا رضي اهلل عنه اىل اليمن فقال : هم ادعّ ن اهلل افرتض عليهمّّ ن رسول اهلل، فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أ إىل شهادة أن ال اله إالّ اهلل وأِ ك فاعلمهم ان اهلل افرتض عليهم صدقة يف امواهلم ذل
ِ مخس صلوات يف آليوم وليلة، فإن هم أطاعوا ل  تؤخذ من .اغنيائهم وترد على فقرائهم

Dari Ibnu Abbas r.a, sesungguhnya nabi SAW mengutus Muadz r.a, ke Yaman, beliau bersabda, “ajaklah mereka untuk mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan mengakui bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka menerima itu, beritahukanlah bahwa Allah Azza Wa Jalla telah mewajibkan bagi mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika ini telah mereka taati, sampaikanlah bahwa Allah telah mewajibkan zakat pada harta benda mereka yang dipungut dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka.

Pengelolaan Zakat Produktif

Pengelolaan atau manajemen zakat dalam Islam merupakan aktifitas pengelolaan zakat yang telah diajarkan oleh Islam dan telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW dan penerusnya yaitu para sahabat.

Pelaksanaan zakat pada awal sejarahnya ditangani sendiri oleh Rasulullah SAW dengan mengirim para petugasnya untuk menarik zakat dari mereka yang ditetapkan sebagai pembayar zakat, lalu dicatat, dikumpulkan dirawat dan akhirnya dibagikan kepada para penerima zakat.

Untuk melestarikan pelaksanaan tersebut, khalifah Abu Bakar R.A. terpaksa mengambil tindakan keras kepada para pembangkang-pembangkang yang menolak membayarkan zakatnya.

Selanjutnya setelah masa khalifah berakhir hingga sekarang peran pengganti pemerintah sebagai pengelola zakat dapat diperankan oleh Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat.

Sejarah Islam menginformsikan bahwa Rasulullah SAW telah mengutus Umar bin Khattab pergi memungut zakat, demikian juga Mu’az bin Jabal yang diutus ke Yaman.

Di antara pegawai-pegawai pemungut zakat yang diangkat Rasulullah SAW adalah Ibnu Lutabiyah, Abu Mas’ud, Abu Jahm, Uqbah bin Amir, Dahhaq, Ibnu Qais dan Ubadah as-Samit. Mereka bertugas untuk mengumpulkan zakat dan membaginya kepada mereka yang berhak .

Cara-cara pelaksanaan zakat sangatlah terinci dalam ajaran Islam seperti yang dapat kita lihat penjabarannya yang lengkap dalam kitab-kitab fiqh. Yang terpenting diantaranya adalah ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

a. Jenis-jenis harta benda atau kekayaan yang dikenai zakat.
b. Besarnya kekayaan yang dikenai zakat dari tiap-tiap jenis tersebut (nishab).
c. Besarnya zakat yang dipungut dari tiap-tiap jenis tersebut.
d. Waktu pemungutannya (haul).
e. Jenis-jenis penerima zakat (ashnaf).
f. Cara-cara pembagiannya

Setelah membahas sasaran ekonomi zakat berupa 8 golongan yang berhak menerima zakat, maka penulis akan membahas cara pembagian atau distribusi zakat yang khususnya dilakukan oleh lembaga pengelola zakat.

Sebuah pendistribusian zakat dilakukan untuk mencapai visi zakat yaitu menciptakan masyarakat muslim yang kokoh baik dalam bidang ekonomi maupun non ekonomi.

Untuk mencapai visi tersebut diperlukan misi distribusi zakat yang memadai. Misi yang diharapkan bersifat produktif yakni mengalokasikan zakat kepada mustahiq, dengan harapan langsung menimbulkan muzakki-muzakki baru.

Di Indonesia pengelolaan zakat diatur berdasarkan UU No.38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat pasal 5 yang sudah di revisi dengan UU zakat yang disyahkan pada tanggal 27 Oktober 2011.

Dalam UU tersebut mendorong upaya pembentukan lembaga pengelola zakat yang amanah, kuat dan dipercaya oleh masyarakat.

Lembaga amil zakat yang telah dikukuhkan di instansi-instansi pemerintah maupun swasta berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999, oleh Undang-Undang ini diubah statusnya menjadi unit pengumpul zakat dari badan amil zakat setempat.

Sedang lembaga amil zakat lainnya yang telah dikukuhkan oleh pemerintah diintegrasikan ke dalam badan amil zakat setempat sebagai unsur masyarakat.

Pengumpulan zakat, infaq, shadaqah, hibah, wasiat, waris, dan kafarah akan dilakukan di seluruh desa/kelurahan oleh badan amil zakat desa/kelurahan dengan melibatkan pengurus-pengurus masjid sebagai unit pengumpul zakat di wilayah masingmasing dibantu oleh petugas penyuluh dan petugas pengumpul yang dilatih oleh badan amil zakat kabupaten/kota dibawah bimbingan ulama dan pemerintah setempat.

Beberapa keuntungan dari pengelolaan zakat yang dilakukan oleh lembaga pengelola zakat dan yang memiliki kekuatan hukum formal antara lain :

Pertama, untuk menjamin kepastian dan kedisiplinan pembayar zakat.

Kedua, untuk menjaga perasaan rendah diri para mustahiq zakat apabila berhadapan langsung untuk menerima zakat dari para muzakki.

Ketiga, untuk mencapai efisiensi dan efektifitas, serta sasaran yang tepat dalam penggunaan harta zakat menurut skala prioritas yang ada pada suatu tempat.

Keempat, untuk memperlihatkan syi’ar Islam dalam semangat penyelenggaraan pemerintahan yang Islami.

Model pengelolaan zakat secara produktif ini telah dicontohkan pada masa Khalifah Umar Ibn Khathab yang menyerahkan zakat berupa tiga ekor unta sekaligus kepada salah seorang mustahiq yang sudah rutin meminta zakatnya tetapi belum berubah nasibnya.

Pada saat penyerahan tiga ekor unta itu, khalifah mengharapkan agar yang bersangkutan tidak datang lagi sebagai penerima zakat tetapi diharapkan khalifah sebagai pembayar zakat.

Harapan Khalifah Umar Ibn Khathab tersebut ternyata menjadi kenyataan, karena pada tahun berikutnya orang ini datang kepada Khalifah Umar Ibn Khathab bukan meminta zakat, tetapi untuk menyerahkan zakatnya.


-------------
1. M. Dawam Rahardjo, Islam dan Transformasi Sosial Ekonomi, (Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat, 1999), h. 45.

2. Hasbi Asy Shidieqy, Falsafah Hukum Islam, (Semarang:Pustaka Rizki Putra, 2001), h. Ahmad Rofiq, Fiqh Kontekstual (Dari Normatif Ke Pemaknaan Sosial), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 259.

3. Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial: Dari Sosial Lingkungan Hidup, Asuransi HinggaUkhuwah, (Bandung: Mizan, Cet. Ke-3, 1995), h. 231.

Loading...
Loading...

0 Response to "Pengertian Zakat Produktif dan Cara Pengelolaannya Menurut Qur'an dan Hadits"

Post a Comment


Loading...