Macam-Macam, Jenis, Syarat Ketentuan Serta Nisab Zakat Fitrah dan Zakat Mal (Harta) Beserta Dalilnya

Ilmuekonomi.net-Zakat fitrah adalah zakat yang harus dekeluarkan setahun sekali setiap anggota keluarga, sedangkan zakat mal atau harta adalah zakat yang harus dikeluarkan jika sudah jatuh nisabnya dan sudah satu tahun, berikut penjelasan mengenai zakat binatang ternak, zakat hewan ternak, zakat kambing, ketentuan zakat, zakat pertanian, zakat emas perhiasan, zakat unta, fiqih zakat, ketentuan zakat fitrah, zakat peternakan, zakat perdagangan, zakat hewan, zakat sapi, syarat zakat, nisab zakat kambing, zakat buah buahan, zakat biji bijian, zakat obligasi, zakat saham, zakat hasil bumi, zakat sewa tanah, zakat properti, zakat madu, zakat piutang, zakat profesi.

Zakat Fitrah dan Zakat Mal

Nisab Zakat Fitrah dan Zakat Mal - Setelah yang lalu mengenal macam-macam zakat, sekarang kita membahas tentang nisab zakat. Nisab adalah batasa/ukuran jumlah yang wajib dikeluarkan zakatnya dari jumlah harta tersebut.

Nisab zakat fitrah

1. Zakat fitrah wajib dikeluarkan oleh setiap orang Islam dan semua keluarga yang menjadi tanggungannya, seperti anak, istri, ibu, bapak, pembantu dan lain sebagainya.

2. Nisab zakat fitrah adalah 1 (satu) sho yang sama dengan 2,5 kg atau 3,1 liter beras setiap orang/jiwa baik besar atau kecil.

3. Barang yang dizakatkan  adalah makanan pokok sehari-hari, atau senilai dengan 2,5 kg beras

Macam-macam Zakat Mal dan Nisabnya

Nisab zakat unta

Syarat kewajiban zakat unta ialah kepemilikannya berlalu satu tahun dan mencapai nishab, nishabnya adalah 5 unta atau lebih, kemudia dilepas mencari makan sendiri bukan diberi makan, bukan unta pekerja, ini berdasarkan sabda Rosul

ليس فيما ذونَ خمْسِ ذَودٍ من اللإ بلِ صد قةٌ

Tidak ada kewajiban zakat unta yang kurang dari lima dzaud (hitungan unta mulai dari tiga hingga sepuluh)”  (HR Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Majah)


  • Orang yang memiliki unta mulai dari 5 ekor ke atas wajib mengeluarkan zakatnya. Untuk lebih jelanya perhatikanlah daftar di bawah ini
  • 5 - 9 ekor, zakatnya 1 ekor kambing
  • 10 – 14 ekor, zakatnya 2 ekor kambing
  • 15 – 19 ekor, zakatnya 3 ekor kambing
  • 20 – 24 ekor, zakatnya 4 ekor kambing
  • 25 - 35 ekor, zakatnya 1 ekor bintu makhadh (unta berusia genap setahun, masuk tahun kedua)
  • 36 - 45 ekor, zakatnya 1 ekor bintu labun (unta berusia genap dua tahun, masuk tahun ketiga. Disebut demikian karena induknya melahirkan bayi lagi dan memiliki laban (susu)
  • 46 - 60 ekor, zakatnya 1 ekor anak unta berumur 3 tahun (1 ekor hiqqah) unta berusia genap tiga tahun dan masuk tahun keempat. Unta hiqqo sudah bisa dikawinkan dengan unta jantan
  • 61 - 75 ekor, zakatnya 1 ekor jadz’ah (unta berusia genap empat tahun dan masuk tahu kelima)
  • 76 – 90 ekor, zakatnya 2 ekor bintu labun
  • 91 – 120 ekor, zakatnya 2 ekor hiqqoh
  • 121 – 129 ekor, zakatnya 3 ekor bintu labun
  • 130 – 139 ekor, zaktnya hiqqoh dan 2 ekor bintu labun
  • 140 – 149 ekor, zakatnya 2 ekor hiqqoh dan 2 ekor bintu labun


Kewajiban zakat yang dikeluarkan akan berubah. Setiap sepuluh ekor unta, zakatnya seekor bintu labun hingga seekr hiqqoh, dimulai dari 130 ekor unta. Tidak ada kewajiban zakat di antara dua nishab, itu namanya waqash yang ditolerlir. Allah yang maha bijaksana hanya mewajibkan zakat kambing, bukan unta untuk unta yang kurang dari 5 ekor.

Padahal seharusnya yang dikeluarkan zakatnya adalah jenis dari harta itu sendiri. Alasannya adlaah sedikitnya unta yang dimiliki seorang. Allah mewajibkan zakat unta dari jenis lain (dalam hal ini kambung) bertujuan untuk menjaga hak pemilik unta dan hak orang miskin yang berhak menerima zakat.

Sebab, lima ekor unta saja sudah merupakan harta yang tidak kecil. Ukuran zakat yang kurang dari batas semestinya akan merugikan orang miskin. Kewajiban untuk mengelurkan satu ekor unta juga akan merugikan si pemiliki unta. Dan kewajiban untuk mengeluarkan sebagian dari kedua ketentuan tersebut juga merugikan kedua belah pihak.

Waqash adalah jumlah di antara dua kewajiban. Menurut kesepakatan ulama, jumlah ini ditolelir, tidak ada zakatnya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Nabi ketika bersabda tentangzakat unta,

Bila telah mencapai 25 hingga 35 ekor, zakatnya seekor bintu makhadh betina. Bila telah mencapai 36 hingga 45, zakatnya seekor bintu labun betina.’’

Inilah kewajiban zakat unta yang dipraktikkan Abu Bakar Ash-Shiddiq di hadapan para shabat dan tidak ada seorang shabata pun yang menetangnya.

Macam-Macam Jenis, Syarat Ketentuan Nisab Zakat Fitrah dan Zakat Mal (Harta) Beserta Dalilnya
Zakat Binatang Ternak

Nisab zakat Lembu/sapi dan kerbau


  • 30 - 39 ekor sapi/kerbau zakatnya 1 ekor anak sapi/kerbau berumur 1 tahun menginjak tahun kedua. Biasanya disebut : Tabii'
  • 40-59 ekor sapi/kerbau zakarnya 1 ekor anak sapi/kerbau berumur 2 tahun menginjak tahun ketiga. Biasanya disebut : Musinnah
  • 60-69 ekor sapi/kerbau zakatnya 2 ekor Tabii'
  • 70-79 ekor sapi/kerbau zakatnya 1 ekor Tabii' dan 1 ekor Musinnah
  • 80-89 ekor sapi/kerbau zakatnya 2 ekor Musinnah
  • 90-99 ekor sapi/kerbau zakatnya 3 ekor Tabii'
  • 100 ekor sapi/kerbau zakatnya 2 ekor Tabii' dan 1 ekor Musinnah
  • Dan seterusnya setiap bertambah 30 ekor sapi/kerbau zakatnya bertambah 1 ekor.


Menurut pendapat yang populer dan yang menjadi pedoman empat mazhab dalam hal zakat sapi bahwa nishab awal sapi adalah 30 ekor dan telah berlalu satu tahun, kurang dari itu tidak ada zakatnya.

Perlu dijelaskan bahwa kerbau termasuk dalam jenis sapi berdasarkan ijmak ulama. Karenanya, disatukan satu sama yang lain. Dalil dari kalangan yang berpendapat wajibnya zakat sapi dan ukuran wahib zakatnya ialah riwayat Mua’adz bin jabal. Ia berkata

Rosulullah mengutusku ke Yaman dan memerintahkanku untuk memungut seekor tabi’ atau tabi’ah dari setiap 30 ekor sapi, seekor musinah unutk setiap 40 ekor sapi."

Sedangkan zakat yang wajib dizakati adalah sapi dua tahun.

في كل ثلا ثين تبيعٌ وفي الا ربعين مسنّةٌ

Pada setiap 30 ekor sapi zakatnya satu ekor anak sapi usia 1 tahun dan seriap 40 ekor sapi zakatnya sautu ekor sapi usia 2 tahun".
(HR Abu Dawud dan At-timidzi dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Keterangan:

1. Tabi’ atau tabi’ah adalah anak sapi yang berusia satu tahun masuk tahun kedua. Disebut demikian karena masih mengekor induknya.

2. Musinnah adalah anak sapi yang berusia dua tahun masuk tahun ketiga. Dengan dimikan ukuran wajib zakat sapi ialah seperti yang dijelaskan dalam keterangan diatas. Tambahan setiap 30 ekor zakatnya seekor tabi’ atau tabi’ah. Dan setiap 40 ekor zakatnya seekor musinnah.

Nisab zakat Kambing/domba

Para ulama telah bersepakat bahwa zakat kambung hukumnya adalah wajib. Mereka juga sepakat bahwa al-ghanam (kambing), meliputi kambing kacang (al-ma’iz) dan biri-biri (adh-dho’n).

Keduanya boleh disatukan karena memang berbeda tapi masih satu jenis. Zakat kambing disebutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Orang yang memiliki kambing/domba mulai dari 40 ekor wajib mengeluarkan zakatnya. Karena itu, perhatikanlah daftar dibawah ini :

  • 40 - 120 ekor zakatnya 1 ekor
  • 121 - 200 ekor zakatnya 2 ekor
  • 201 - 300 ekor zakatnya 3 ekor
  • 301 - 400 ekor zakatnya 4 ekor
  • 401 - 500 ekor zakatnya 5 ekor

Demikian seterusnya, tiap bertambah 100 ekor, maka zakatnya bertambah 1 ekor.

Keterangan berikutnya

1. Lebih dari 400 ekor, kelipatan setiap seratus zakatnya satu ekor kambung.

2. Jumlah di antara dua kewajiban (nishab) ditolelir, tidak ada zakatnya berdasarkan kesepakatan ulama.

3. Kambing yang tidak boleh dibayarkan untuk zakat adalah kambing tua yang giginya sudah mulai tanggal, cacat, bukan kambing jantan (jika mustahiqnya mau), sebab bila yang dibilang kambing jantan tanpa kerelaan pemiliknya, itu bisa jadi merugikan karena kambing jantan sangat diperlukan.

4. Memayar zakat berupa kambing jantan hukumnya boleh berdasarkan kesepakatan ulama, bila nishab kambing seluruhnya jantan. Bila nishab kambing yang ada betina semua, boleh hukumnya membayar zakat berupa kambing jantan menurut fuqaha ahnaf. Sedangkan menurut fuqaha lain wajib kambing betina.

5. Bila diperhatikan syarian islam memberika keringanan untuk ukuran wajib zakat kambing bila jumlahnya banyak, mengingat ukuran wajib zakat kambing adalah 1% dari jumlah total kambing. Padahal persentase lazim dalam zakat modal, seperti uang dan barang perdagangan adalah sebesar 2,5%.  Apa hikmah dari hal tersebut?

Dr. Yusuf Qardhawi penyebabnya adalah bila jumlah kambing banyak maka anaknya juga membludak, baik domva maupun kambing biasa. Sebab dalam satu tahun, dalam satu tahun kambing melahirkan lebih dari satu kali, dan setiap kali melagirkan jumlah anaknya lebih dari satu ekor, terlebih kambing biasa.

Jumlah bayi-bayi kambing ini terhitung bagi sipemiliknya namun tidak bisa digunakan untuk membayar zakat. Karna itulah zakat kambung berhak menerima keringanan dan kemudahan ini sebagai implementasi prisnsip keadilan.

Zakat Produk-produk Hewani

Ada beragam inovasi baru yang mencul pada mas kita sekaran gini dan belum pernah dikenal sebelumnya, tidak ada keputusan hikum dari Rosul tentang hal itu, tidak ada juga dari sahabat.

Banyak sekali proyek yang meraup pemasukan dalam jumlah besar yang belum pernah dikenal sebelumnya, baru ada pda masa ksekarang dan tidak ada hukumnya secara terperinci. Masalah ini dijelaskan dalam fiqh Al-Ibadah karya Syaikh Muhammad Syayid Shadiq, salah satu ulama besar Al-Azhar.

Dimasa sekarang ini banyak sekali hewan ternak yang diambil susunya secara khusus dan mendatangkan pemasukan besar utuk pemiliknya. Di sebagian negara juga ada ulat kepompong yang diternak di daun murbei dan menghasilkan hasil berupa sutra istimewa. Ada juga peternakan binatang-binatang jinak dan kelinci yang menghasilkan keuntungan besar. Ini semua tidak dikenakan sebelumnya dan tidak ada putusan Rosul, sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya mengenai hal itu.

Namun kita bisa memahami alasan yang disebut fuqaha kenapa zakat tidak wajib dalam susu binatang ternak sementara madu lebih wajib dizakati. Toh keduanya sama-sama berasal dari perut binatang. Dalam hal ini fuqaha telah menjelaskannya, karena susu yang berasal dari binatang pada asalnya wajib dizakati (bagi binatang ternak), tidak seperti madu.

Berdasarkan penjelasan ini dapat dipahami bahwa sesuatu yang pada asalnya tidak wajib dizakati bila dikembangkan dan mengeluarka hasil maka hasilnya wajib dizakati. Karena itulah dalam Fiquz Zakat, Dr. Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa hukum produk-produk hewan seperti susu dan turunannya sama seperti hukum madu.

Zalatmua sebesar sepersepuluh 1/10 diambil dari keuntungan bersih. Kaidahnya, sesuatu yang pada asalnya tidak wajib dizakati, bila dikembangkan dan menghasilkan, sesuatu tersebut menjadi wajib dizakati. Misalnya madu bagi lebah, tanaman bagi tanah, susu bagi binatang yang tidak diternak, dan telur bagi ayam, kecuali bila untuk diperdagangkan.

Besar zakat yang dikeluarkan sebesar 1/10 dari total permasukan bersih setelah dipotong beban produksi.

Kesimpulan dari beberapa pendapat di atas hasil produksi hewan seperti susu, telur, kain sutra yang berasal dari kepompong ulat sutra, dan hasil hasil lain hukumnya sama seperti hukum madu lebah wajib dikeluarkan zaktnya sebesar 1/10 setelah dipotong biaya produksi.

Catatan

1. Hewan ternak harus dikembalakan

Pada hewan ternak jumhur ulama mensyaratkan bahwa bintang tersebut harus digembalakan. Maksudnya binatang itu selama setahun lebih sering digembalakan di padang rumput bebas. Akan tetapi Imam Malik r.a tidak mensyaratkannya dalam kewajiban zakat. Pensyaratan ini adalah yang perbutan penduduk madinah. Dasar ulama jumhur ulama dalam pensyaratan ini ialah sabda Nabi S.A.W

وفي سائمةِ الغنم إذا كانت أربعين ففيها شاةٌ إلى عشرين ومائةٍ 

"Pada kambing yang yang telah mencapai jumlah empat puluh hingga seratus dua puluh ekor maka zakatnya adalah satu ekor kambing

Pada kambing yang digembalakan jumhur ulama menjadikannya sebagai dalil secara nash dalam pensyaratan kambing harus digembalakan. Adapun pada unta dan sapi diqiyaskan dengan kambing.
Mereka berpendapat bahwa karena sulitnya dan beban berat ketika harus memberi makan ternak inilah yang menjadikan adanya syarat hewan harus digembalakan.

2. Tidak ada zakat pada waqash dari semua binatang ternak

Waqosh adalah jumlah antara dua kadar kewajiban zakat. Orang yang memiliki kambing sejumlah 40 ekor sampai 120 ekor maka ia hanya wajib mengeluarkan zakat seekor kambing. Namun jika jumlahnya melebihi satu saja/121, maka ia harus mengeluarkan zakat dua ekor kambing. Jadi jumlah antara 40 sampai 120 disebut waqash dan tidak ada kewajiban zakat atasnya (selain hanya satu ekor kambing). Demikian pula dengan waqosh unta dan sapi.

Hal ini lantaran Nabi S.A.W ketika menuturkan kadar-kadar kewajiab zakat hewan ternak, beliau bersabda:

إذا بلغتً كذا ففيها كذا

Jika jumlahnya mencapai sekian maka zakatnya sekian

Maka diketahui bahwa jumlah antara dua kadar kewajiban tidak ada zakatnya.

3. Penggabungan dalam membayar zakat

Dalam membayar zakat kambing domba boleh digabungkan dengan kambing kacang, karena keduanya satu jenis. Demikian pula zakat kerbau digabungkan dengan sapi, onta Irab (onta arap) digabungkan dengan unta bukhti (onta khurasan yang mempunyai dua punuk) karna nabi hanya menjelaskan keumuman jenisnya:

وفي سائمةِ الغنم إذا كانت أربعين ففيها شاةٌ إلى عشرين ومائةٍ 

"Pada kambing yang yang telah mencapai jumlah empat puluh hingga seratus dua puluh ekor maka zakatnya adalah satu ekor kambing

في كل خمسِ ذَوْدٍ شاةٌ

"Pada tiap-tiap lima dzaud unta ada kewajiban zakat seekor kambing

في كُل ثلا ثين من البقرِ تبيعٌ 

Pada setiap 30 ekor sapi, zakatnya anak sapi usia 1 tahun

4. Menggabungkan dua kepemilikan

Dua orang yang menggabungkan ternaknya apabila masing-masing memiliki hewan ternak mencapai neshab, sedangkan pengembalanya, tempat mengembalakannya, tempat istirahat dan tempat bermalamnya sama, maka zakat dikeluarkan dari keduanya secara gabungan. Kemudian keduanya saling menyepakati untuk mengganti sesuai proporsinya.

Misalnya salah satu dari keduanya meiliki 40 ekor kambing, dan lainnya memiliki 80 ekor kambing, dan lainya memiliki 80 ekor kambing, lalu petugas zakat mengambil zakat seekor kambing dari dari pemiliki  40 ekor kambing, maka pemilik 80 ekor kambing mengganti senilai dua pertiga kambing kepada pemilik 40 ekor kambing.

Meskipun demikian, tidak diperbolehkan menggabungkan dua kambing yang berbeda karena bermaksud menghindari zakat yang tidak boleh pula memisahkan antara kambing yang digabung untuk menghindari  zakat. Hal ini berdasarkan riwayat yang terdapat di dalam Surat Abu Bakar Ash-Shiddia r.a:

ولا يجمعُ بين متفرٍّقٍ ولا يفرقُ بين مجتمعٍ خشيةِ الصدقةِ وما كنا من خليطنِ فإنهما يتراجعانِ بينهما بالسويةِ

"Tidak boleh digabungkan antara kambung yang dipisahkan dan tidak boleh dipisahkan antara kambing yang digabungkan karena khawatir wajib mengeluarkan zakat. Kambing yang berasal dari gabungan dua orang maka keduanya membagi dengan sama". (HR. Bukhari)

5. Tidak sah membayar zakat dengan binatang yang belum berumur

Tidak dapat diterima untuk membayar zakat anak kambing yang masih kecil, anak sapi, dan anak unta. Akan tetapi semua anak-anak hewan ternak yang masih kecil ini tetap dihitung untuk dizakati oleh pemilinya. Hal ini berdasarkan perkataan Umat r.a kepada amil zakatnya:

عُدَّ عليهم الخلةَ ولا تأْخذها

Hitunglah anak-anak kambing dan janganlah engkau mengabilnya untuk membayar akat". (HR. Al Malik didalam Al-Muwattha)

Tidak sah membayar zakat dengan binatang yang terlalu tua atau cacat
Tidak dapat diambil untuk membayar zakat ternak yang sangat tua dan ternak cacat yang dapat mengurangi harganya. Hal ini berdasarkan perkataan Abu Bakar r.a:

ولا يؤخذ في الصدقةِ هرمةُ ولا ذاتُ عوارٍ ولا تيسٌ

Tidak dapat diambil untuk zakat ternak yang sangat tua, ternak yang buta sebelah dan kambing hutan".

Sebagaimana juga tidak boleh diambil harta-harta yang dimuliakan seperti Al Mahidh, yaitu binatang yang hampir melahirkan, kambing pejantan, kambing yang digemukan untuk dimakan dan hewan yang sedang merawat anak-anaknya. Hal ini berdasaarkan sabda Nabi S.A.W kepada Mu’adz r.a:

فإنك وكرائمِ أموالهمْ

“Janganlah kamu mengambil harta-harta mereka yang dimuliakan (sebagai zakat). (HR.  Al-Baihaqi)

Buah- buahan dan biji-bijian

Ketentuan zakat pada biji-bijian dan buah-buahan ialah telah menguning atau memerah, biji-bijian terlepas dari kulitnya, buah anggur dan zaitun telah layak untuk dipanen. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al-an’am ;141)

Nishab buah-buahan dan biji-bijian adalah 5 wasaq. 1 wasaq adalah 60 sha’, 1 sha adalah 4 mud. Ketentuan ini berdasarkan sabda Rosul:

ليس فيما ذونَ خمْسِ ذَودٍ من اللإ بلِ صد قةٌ

Tidak ada kewajiban zakat unta yang kurang dari lima dzaud (hitungan unta mulai dari tiga hingga sepuluh)”  (HR Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Majah)

Zakat yang wajib dikeluarkan dari buah-buahan dan biji-bijian apabila diairi tanpa biaya, misalnya tanaman yang menyerap air tanah atau diairi dengan sumber mata air atau air sumur, maka zakatnya 10%.

Jadi pada setiap 5 wasaq, ada kewajiban zakat setengah wasaq. Apabila diairi dengan biaya misalnya diairi dengan menggunakan timba, As-Sawani (bentuk jama’ dari As-Saniyah yaitu onta atau lainnya yang digunakan untk mengairi tanaman), dan lain sebagainya, maka zakatnya 5%. Jadi pada 5 wasaq ada kewajiab zakat sperempat wasaq.

Sedangkan kelebihan hitungannya disesuaikan baik sedikit maupun banyak. Hal ini berdasarkan sabda Nabi:

فيما سقت السماء ًوالعيونُ أوكنا عثرياَّ العشرُ وما سقي بالنضحِ نصف العشر

“Tanaman yang diari dengan air hujan, mata air atau berupa tanaman yang menyerap air tanah (yaitu tanaman yang menyerap air tanah dengan akar-akarnya tanpa disiram, dan tanaman ini disebut pula Al-Ba’l)  zakatnya seper sepuluh 1/ 10, sedangkan yan gdiairi dengan penyiraman zakatnya seperduapuluh 1/20.

Catatan:

1. Orang yang mengairi tanamannya sesekali dengan alat dan sesekali tanpa alat (air hujan), maka kewajiban zakatnya adalah 7,5%. Demikianlah pendapat ahli ilmu. Ibnu Qodamah berkata
“Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat mengenai hal ini”

2. Kurma yang bermacam-macam jenisnya digabungkan, jika mencapai satu nishab, maka zakatnya dikeluarkan dari jenis kurma yang menengah. Jadi, tidak tertentu harus mengeluarkan kurma yang baik atau yang buruk.

3. Gandum, jewawut, dan gandum sult digabungkan untuk dikeluarkan zakatnya. Apabila gabungan semuanya mencapai nishab, maka dikeluarkan zakatnya dari jenis gandum yang paling banyak.
Biji-bijian yang bermacam-macam digabungkan menjadi satu. Biji-bijian meliputi kedelai, kacang-kacang, kacang polong, kacang kapri, dan turmus (sejenis kacang-kacangan), apabila gabungan semuanya mencapai nishab maka dikeluarkan zakatnya dari jenis biji-bijian yang paling banyak.
Apabila masing-masing dari zaitun, lobak atau ketumbat mencapai nishab maka zakat yang dikeluarkan berupa minyaknya.

4. Macam-macam anggur digabungkan menjadi satu, apabila mencapai nishab, maka wajib dizakati. Apabila anggur dijual sebelum menjadi anggur kering maka yang dibayarkan zakatnya berupa harganya, yaitu 10% atau 5 % dengan mempertimbangkan pengairannya.
Beras, jagung dan jewawut masing-masing merupakan jenis tersendiri, maka tidak dapat digabungkan satu dengan lainnya. Jika masing-masing jenis ini tidak mencapai nishab maka tidak ada kewajiban zakat.

5. Bagi orang yang menyewa sebidang tanah dan menanaminya dan ternyata hasil panennya mencapai nishab, maka ia wajib mengeluarkan zakatnya.

6. Bagi orang yang memiliki buah-buahan atau biji-bijian dengan cara apa pu, baik karna hibah, pembelian atau warisan setelah matang, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya, karena kewajiban zakat dari barang-barang tersebut adalah orang yang menghibahkan atau penjualnya. Namun jika ia memilikinya sebelum matang, maka ia terkena kewajiban zakat.

7. Orang mempunyai hutang hingga menghabiskan seluruh hartanya atau mengurangi dari nishab maka tidak ada kewajiban zakat atasnya.

Nisab Zakat Emas

Emas yang wajib dikeluarkan zakatnya, apabila telah mencapai nisab bersih 20 Dinar atau 20 Mitsqol atau berat timbangannya 93,6 gram. Zakat emas yang harus dikeluarkan : 2,5 % atau seper empat pulunya. Jadi apabila ada orang Islam yang merdeka dan memiliki 93,6 gram emas atau lebih dari emas yang bersih dan telah cukup satu tahun menjadi milinya, maka ia wajib mengeluarkan zakatnya 2,5 % dari emas itu.

Nisab Zakat Perak

Perak yang wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nisab perak bersih = 20 Dirham atau setara kira-kira dengan 624 gram. Zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 % atau 1/40nya.
Perhiasan emas atau perak yang biasa dipakai oleh kaum wanita, dan tidak berlebih-lebihan, lagi pula tidak untuk sebagai simpanan, maka zakatnya tidak wajib untuk dikeluarkan.

Nisab Zakat Uang

Sejak dahulu sampai sekarang bahwa peredaran uang itu selalu berdasarkan harga emas. Karena itulah nisab zakat uang sama/seharga dengan nisab zakat emas. Jadi memiliki uang seharga dengan emas 93,6 gram atau lebih, maka wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 %.

Nizab zakat perkebunan/pertanian

1. Apabila hasil bumi tersebut, diairi oleh air hujan, air dari mata air, dan sebagainya tanpa mengeluarkan biaya untuk membeli atau ongkos mengangkut air, maka zakatnya adalah 10 % atau 1/10.

2. Apabila hasil bumi tersebut, diairi dengan air kincir yang ditarik oleh binatang, atau disiram dengan alat yang memakai biaya (upah), maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah 5 % atau 1/20.

Nisab zakat harta perdagangan

Pada dasarnya nizab zakat perdagangan dihitung dengan nilai uang. Karena itu, nisab zakatnya adalah sama dengan harga nisab zakat emas dan perak.

Jadi jika harga harta perdagangan itu sudah sama dengan harta/ nisab emas dan perak, maka harta perdagangan itu wajib dikeluarkan zakatnya. Dengan demikian, besarnya zakat harta perdagangan  juga saama dengan besarnya zakat emas dan perak, yaitu sebesar 2,5 %.

Harta perdagangan yang dihitung bukan untungnya saja, tetapi seluruh pokok (modal) dan keuntungannya. Sedangkan dasar perhitungan harga dihitung pada harga saat mengeluarkan zakat.

Sumber:

Abu Bakar Jabir Al-Jazair. 2014. Minhajul Muslim. Trans. Ikhwanuddin Abdullah dan Taufiq Aulia Rahman. Jakarta Timur: Ummur Qura

Ali Mahmud Uqaily, Praktis dan Mudah Menghitung Zakat.  Aqwam

0 Response to "Macam-Macam, Jenis, Syarat Ketentuan Serta Nisab Zakat Fitrah dan Zakat Mal (Harta) Beserta Dalilnya"

Post a Comment

wdcfawqafwef