Pengertian, Definisi, Arti Riba Menurut Islam Dan Hukum Pengharaman Riba Dalam Al-Qur’an

Ilmuekonomi.net-Sifat dari riba itu sendiri adalah berlipat ganda. Oleh sebab itu tidak memandang berapa kecil atau berapa besar kelipatan tersebut, jika itu berlipat ganda maka itulah riba. Dan ditetapkan di awal, sehingga bisa dikiaskan bahwa riba sama saja dengan bunga bank yang ditentukan diawal transaksi.
Sebelum diutusnya Rosulullah Muhammad S.A.W bangsa arap adalah bangsa yang sangat jahiliyah. Jahiliyah disini bukan berarti kaum yang bodoh akan ilmu pengetahuan, bahkan mereka terkenal dengan syair-syair yang indah itu menandakan bahwa bangsa arap adalah bangsa yang cerdas. Akan tetapi mereka jahil atau bodoh dengan kebenaran.

Sehingga banyak tradisi bangsa arap seperti jual beli atan pinjam meminjam barang atau jasa yang mengandung unsur riba. Seperti memberikan pinjaman dengan pengembalian lebih, dan ini sudah mendarah daging bagi bangsa arap ketika jahiliyah. Pada masa itu riba masih belum dilarang. Ketika Rosul telah diutus maka disitulah riba dilarang secara bertahap.

Riba

Riba menurut bahasa artinya tambahan. Sedangkan menurut istilah syar’i, para ulama’ memberikan pengertian yang berbeda-beda, antara lain: Imam Ahmad berkata: “Riba adalah tambahan secara khusus.” (Raddul Muhtar: 183), Mengambil keuntungan dengan cara yang haram sebagaimana Allah mensifati orang yahudi dalam surat An-Nisa: 161 ( Tafsir Al-Qurthubi al-Baqarah: 275), Ibnu Katsir berkata: “Firman-Nya ‘dan tinggalkan sisa riba’ artinya tinggalkan kelebihan dari uang pokokmu yang ada pada manusia“ (Tafsir Ibnu Katsir: 1/439)

Pengertian riba adalah tambahan pada harta-harta tertentu. Riba ada dua macam, yaitu riba fadl dan riba nasi’ah.

Riba fadhl adalah menjual barang dengan barang lain yang sejenis yang berlaku hukum ribawi dan ukurannya tidak sama. Misalnya, menjual satu kuintal gandum dengan satu kuintal lebih seperempat gandum, menjual satu sha’ kurma dengan satu setengah sha’ kurma, atau menjual satu uqiyah perak dengan stu uqiah lebih satu dirham perak.

Riba nasi’ah ada dua macam, yaitu riba jahiliah sebagaimana yang dijelaskan keharamannya oleh Allah dalam surat Ali Imron: 130:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda(1) dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Ali Imron: 130)

Hakikat riba disini iala seseorang mempunyai piutang bertempo pada orang lain, namun ketika telah jatuh tempo ia berkata kepadanya, ‘’Kamu melunasi hutangmu atau saya akan menambah lagi urangmu.’’

Jika ia tidak bisa melunasinya maka ia akan menambahnya sesuai dengan kuantitas bartanya dan ia akan memberi tenggang waktu lagi. Demikian seterusnya hingga pada suatu saat hutangnya menjadi berlipat ganda.

Termasuk juga riba jahiliyah ialah memberika pinjaman kepada orang lain sepuluh dinar namun harus dikembalikan dengan lima belas dinar secara bertempo, baik dalam waktu dekat maupun waktu lama.

Adapun pengertian riba nasiah adalah menjual barang yang berlaku hukum riba, seperti emas dan perak, gandum, jewawut atau kurma dengan barang lain yang berlaku hukum riba secara bertempo. Misalnya seseorang menjual satu kuintal gandum secara bertempo atau menjual sepuluh dinar emas dengan serataus dua puluh dirham perak dengan bertempo.

Pengertian, Definisi, Arti Riba Menurut Islam Dan Hukum Pengharaman Riba Dalam Al-Qur’an

Hukum riba dalam islam

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ 
الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) ribatidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqoroh: 275)

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan, (yakni); Menyekutukan Allah; Sihir; Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang haq; Memakan riba; Memakan harta anak yatim; Lari dari medan pertempuran; Menuduh berzina wanita mukminah yang lengah (tidak terlintas olehnya untuk melakukan itu).” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Catatan Kaki:

(1) Yang dimaksud riba di sini ialah riba nasi’ah. Menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi’ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda (Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.

Riba fadhl adalah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman melakukan riba dan memakannya dengan berlipat ganda, sebagaimana yang mereka lakukan pada masa jahiliyah. Orang-orang jahiliyah berkata, “Jika utang sudah jatuh tempo, maka ada dua kemungkinan: dibayar atau dibungakan. Jika dibayarkan, maka selesai urusannya.

Jika tidak dibayar, maka dikenakan bunga yang kemudian ditambahkan kepada pinjaman pokok”. Maka pinjaman yang sedikit dapat bertambah besar berlipat-lipat (pinjaman ditambah bunga, lalu dibungakan lagi).

Mematuhi segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah adalah ditujukan untuk kebaikan manusia itu sendiri. Allah menghendaki manusia untuk menjadi orang yang beruntung, namun tergantung juga kepada manusia itu sendiri akan memilih keberuntungan atau tidak.

Keberuntungan yang sebagai akibat taqwa kepada Allah ini mencakup keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Referensi:
Muhammad Nasib Ar-rifa’i, Kemudahan Dari Allah – Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Gema Insani, 1999

Abu Bakar Jabir Al Jazairy, Minhajul Muslim, Ummul Qura, Jakarta Timur: 2014

0 Response to "Pengertian, Definisi, Arti Riba Menurut Islam Dan Hukum Pengharaman Riba Dalam Al-Qur’an"

Post a Comment

wdcfawqafwef