Pengertian Maqoshid Syariah Dalam Ekonomi Islam Menurut Syatibi dan Para Ahli

Loading...
Loading...
Pembahasan kali ini akan membahas mengenai pengertian maqashid syariah, makalah maqashid syariah, maqasid al syariah, contoh maqashid syariah, macam macam maqashid syariah, maqashid syariah dalam ekonomi islam, 5 maqashid syariah dan pengertian syariah.


Maqashid Syari'ah

Artikel ini mengelaborasi secara mendalam keterkaitan Ekonomi Islam dan maqashid syariah. Dalam Ekonomi Islam menempatkan Maqashid Syari’ah sebagai acuan, sehingga sistem dan ilmu yang kini tengah diformulasikan dapat memberi kemaslahatan dan mampu menjadi pan-acea terhadap kompleknya problem ekonomi kekinian yang kian akut.

Maqashid Syari’ah dalam dataran idealnya juga harus berimplikasi pada perilaku ekonomi individu muslim, baik dalam posisinya sebagai konsumen maupun produsen. Kesemua aktivitas ekonomi tersebut harus menuju kepada kemaslahatan.

Pengertian Maqashid Syari'ah

Secara bahasa pengertian maqashid sayari’ah terdiri dari dua kata yaitu, maqashid dan syari’ah. Pengertian maqashid adalah bentuk jamak dari maqshid yang artinya kesengajaan atau tujuan.

Sedangkan pengertian syari’ah adalah menuju sumber air. Jalan menuju sumber air ini dapat juga dikatakan sebagai jalan kearah sumber pokok kehidupan.
Menurut Asy-Syatibi, pengertian maqasid syari’ah adalah tujuan syari’ah yang lebih memperhatikan kepentingan umum.
Sebagaimana yang ada dalam kamus dan penjelasannya bahwa syariat adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah bagi hamba-Nya tentang urusan agama, atau hukum yang telah ditetapkan dan diperintahkan oleh Allah baik berupa ibadah (puasa, shalat, haji, zakat dan seluruh amalah kebaikan) atau muamalah yang menggerakkan kehiidupan manusia seperti jual beli, nikah dan lain sebagainya.
Allah SWT berfirman:
لامر من ىعه شر علي جعلنا ثم
Kemudian kami jadikan kamu berada di atas sebuah syariat, peraturan dari urusan agama itu” (Qs. AL-Jatsiyah:18)”

Islam memiliki kitab suci al-Qur‘an. Sebagai sumber utama, al-Qur‘an mengandung berbagai ajaran. Dikalangan ulama ada yang membagi kandungan alQur‘an kepada tiga kelompok besar yaitu, aqidah, khuluqiyyah, dan amaliyah. Aqidah berkaitan dengan dasar-dasar keimanan.

Khuluqiyyah berkaitan dengan etika dan akhlak. Amaliyah berkaitan dengan aspek-aspek hukum yang keluar dari Aqwal (ungkapan-ungkapan), dan af‘al (perbuatan-perbuatan manusia).

Sebelum kita melangkah pada pengertian Maqashid asy Syari’ah,terlebih dahulu kita jelaskan pengertian syari‘ah secara terpisah. Dalam literatur hukum islam dapat ditemukan pendapat-pendapat ulama tentang syari‘ah ini.

Dalam periode-periode awal, syari‘ah merupakan al-nusus al-Muqaddas dari al-Qur‘an dan sunnah yang mutawatir yang sama sekali belum dicampuri pemikiran manusia. Dalam wujud seperti syari‘ah disebut al – tariwah al mustaqimah.

Unsur-Unsur yang Membentuk Maqashid Asy Syari’ah

Secara umum, tujuan-tujuan hukum dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yang luas Dalam sub kategori yang pertama, Syatibi membahas maksud Tuhan yang sebenarnya dalam menetapkan hukum, dalam hal ini untuk melindungi kemaslahatan manusia (baik yang berkenaan dengan duniawi maupun agama).

Sepanjang yang diakui oleh prinsip-prinsip daruriyyat, hajiyyat, tahsiniyyat. Dalam sub kategori yang kedua, Syatibi membicarakan tentang maksud Tuhan membuat syariat. Dengan demikian syariat mestilah dapat dipahami oleh orang awam dan tidak boleh dimengerti oleh

Peranan Maqashid Syari’ah dalam Pengembangan Hukum

Pengetahuan tentang Maqashid Syari’ah,seperti ditegaskan oleh Abd al-Wahhab Khallaf, adalah hal sangat penting yang dapat dijadikan alat bantu untuk memahami redaksi al-Qur‘an dan Sunnah, menyelesaikan dalil-dalil yang bertentangan dan yang sangat penting lagi adalah untuk menetapkan hukum terhadap kasus yang tidak tertampung oleh Al-Qur‘an dan Sunnah secara kajian kebahasaan.

Metode istinbat, seperti qiyas, istihsan,dan maslahah mursalahadalah metodemetode pengembangan hukum Islam yang didasarkan atas Maqashid Syari’ah.

Qiyas,misalnya, baru bisa dilaksanakan bilamana dapat ditemukan Maqashid Syari’ahnya yang merupakan alasan logis (‘illat) dari suatu hukum. Sebagai contoh, tentang kasus diharamkannya minuman khamar (QS. al-Maidah: 90).

Dari hasil penelitian ulama ditemukan bahwa Maqashid Syari’ahdari diharamkannya minuman khamar ialah sifat memabukkannya yang merusak akal pikiran. Dengan demikian, yang menjadi alasan logis (‘iilat) dari keharaman khamar adalah sifat memabukkannya, sedangkan khamar itu sendiri hanyalah sebagai salah satu contoh dari yang memabukkan.

Dari sini dapat dikembangkan dengan metode analogi (qiyas) bahwa setiap yang sifatnya memabukkan adalah juga haram. Dengan demikian, ‘iilathukum dalam suatu ayat atau hadis bila diketahui, maka terhadapnya dapat dilakukan qiyas(analogi).

Artinya, qiyashanya bisa dilakukan bilamana ada ayat atau hadis yang secara khusus dapat dijadikan tempat mengqiyaskannya yang dikenal dengan al mawis ‘alaih(tempat meng- qiyas-kan).

Jika tidak ada ayat atau hadis secara khusus yang akan dijadikan al-maqis ‘alaih, tetapi termasuk dalam tujuan syariat secara umum seperti untuk memelihara sekurangnya salah satu dari kebutuhan-kebutuhan di atas tadi, dalam hal ini dilakukan metode maslahah mursalah.

Jika yang akan diketahui hukumnya itu telah ditetapkan hukumnya dalam nash atau melalui qiyas, kemudian karena dalam satu kondisi bila ketentuan itu diterapkan akan berbenturan dengan ketentuan atau kepentingan lain yang lebih umum dan lebih layak menurut syara‘ untuk dipertahankan, maka ketentuan itu dapat ditinggalkan, khusus dalam kondisi tersebut. Ijtihad seperti ini dikenal dengan istihsan.

Metode penetapan hukum melalui maqashid syari’ahdalam praktik – praktik istinbat tersebut, yaitu praktik qiyas, istihsan,danistislah(malsahah mursalah), dan lainnya seperti istishab, sad al-zari’ah. dan ‘urf (adat kebiasaan), di samping dissebut sebagai metode penetapan hukum melalui maqashid syari’ah,juga oleh sebagian besar ulama ushul fiqh disebut sebagai dalil – dalil pendukung, seperti telah diuraikan secara singkat pada pembahasan dalil – dalil hukum di atas. Di bawah ini akan dijelaskan tentang metode – metode yang berdasarkan atas maqasyid syari‘ah.

a. Istihsan

Secara harfiyah, istihsan diartikan meminta berbuat kebaikan, yakni menghitung-hitung sesuatu dan menganggapnya kebaikan. Menurut al-Ghazali dalam kitabnya al-Mustashfa juz I : 137, istihsan adalah semua hal yang dianggap baik oleh mujtahidmenurut akalnya‖.

Fuqaha Hanafiyah membagi istihsan menjadi dua macam yaitu :

  1. Pentarjihan qiyas khafi (yang tersembunyi) atas qiyas jali(nyata). Seorang pewakaf apabila mewakafkan sebidang tanah pertanian, maka masuk pula secara otomatis hak perairan (irigasi), hak air minum, hak lewat ke dalam wakaf tanpa harus menyebutkannya berdasarkan istihsan.
  2. Pengecualian kasuistis (juz‘iyyah) dari suatu hukum kulli(umum) dengan adanya suatu dalil. Apabila penjual dan pembeli bersengketa mengenai jumlah harga sebelum serah terima yang dijual, kemudian penjual mengaku bahwa harganya adalah seratus juneh, dan pembeli mengaku harganya sembilan puluh juneh, maka mereka berdua bersumpah berdasarkan istihsan


b. Maslahah Mursalah

Maslahah mursalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak mempunyai dalil, tetapi tidak ada juga pembatalnya. Jika terdapat suatu kejadian yang tidak ada ketentuan syari‘at dan tidak ada ‘illatyang keluar dari syara‘ yang menentukan kejelasan hukum kejadian tersebut, kemudian ditemukan sesuatu yang sesuai dengan hukum syara‘, yakni suatu ketentuan yang berdasarkan pemeliharaan kemadharatan atau untuk menyatakan suatu manfaat, maka kejadian tersebut dinamakan maslahah mursalah. Tujuan utama maslahah mursalah adalah kemaslahatan, yakni memelihara dari kemadharatan dan menjaga kemanfaatannyaa

Baca Juga: 5 Macam-Macam Contoh Maqashid Syari'ah Dalam Ekonomi Islam Menurut Para Ahli

0 Response to "Pengertian Maqoshid Syariah Dalam Ekonomi Islam Menurut Syatibi dan Para Ahli"

Post a Comment