REVITALISASI MODAL SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DESA

Loading...
Loading...
Tugas Individu
REVITALISASI MODAL SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DESA
(Study kasus desa Sumberjaya kec. Talang Padang kab. Tanggamus)



Di Susun Oleh :

Yuli Widyastuti                     1321040101

EKONOMI SYARIAH E

METODOLOGI PENELITIAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
RADEN INTAN LAMPUNG
2015

 REVITALISASI CAPITAL SOCIAL(MODAL SOSIAL) DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DESA SUMBERJAYA

A.    Latar Belakang Masalah
            Dalam era otonomi daerah sekarang ini, daerah diberikan kewenangan yang lebih besar untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab, terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerah masing-masing. Pelaksanaan otonomi daerah merupakan titik fokus yang penting dalam rangka memperbaiki kesejahteraan rakyat[1]. Pengembangan suatu daerah dapat disesuaikan oleh pemerintah daerah dengan potensi dan kekhasan daerah masing-masing. Tujuan ekonomi yang ingin dicapai dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia adalah terwujudnya peningkatan indeks pembangunan manusia sebagai indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
            Dalam otonomi daerah meniscayakan desentralisasi. Desentralisasi yaitu penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangga sendiri berdasar prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya[2]. Dari desentralisasi tersebut pemerintah daerah membagi lagi kewenangan kepada setiap kabupaten dan kota untuk mengatur kewenangan daerah nya sendiri. Kemudian dibagi-bagi lagi kewenangan per kecamatan hingga ke tingkat desa yang dinamakan kewenangan desa atau otonomi desa. Otonomi desa ialah kewenangan desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangga desa nya sendiri.
Dalam otonomi desa atau kewenangan desa juga harus ada pembangunan desa di daerah tersebut maka pembangunan yang berbasis pedesaan diberlakukan untuk memperkuat fondasi perekonimian negara, mempercepat pengentasan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan perkembangan antar wilayah, sebagai solusi bagi perubahan sosial, desa sebagai basis perubahan. Pembangunan pedesaan adalah pembangunan berbasis pedesaan dengan mengedepankan kearifan lokal kawasan pedesaan yang mencakup struktur demografi masyarakat, karakteristik sosial budaya, karakterisktik fisik/geografis, pola kegiatan usaha pertanian, pola keterkaitan ekonomi desa-kota, sektor kelembagaan desa, dan karakteristik kawasan pemukiman[3].
            Faktor-faktor kemiskinan yang terjadi di masyarakat pedesaan cenderung lebih bersifat struktural dibandingkan bersifat kultural. Dalam kasus ini, masyarakat pedesaan diidentikkan dengan perilaku dan sikap yang dianggap kolot dan tradisional dihadapkan dengan sikap dan perilaku orang kota yang maju dan modern. Terjadinya keterbelakangan sosial masyarakat desa dalam pembangunan dinisbatkan karena sulitnya masyarakat desa menerima budaya modernisasi, sulit untuk menerima teknologi baru, malas, dan tidak mempunyai motivasi yang kuat, merasa cukup puas dengan pemenuhan kebutuhan pokok yang paling dasar, dan budaya berbagi kemiskinan bersama. Karena itu penguatan otonomi desa dengan manajemen pemberdayaan dan penguatan masyarakat desa melalui peningkatan peran modal sosial dan partisipasi masyarakat sudah seharusnya dilakukan. Dengan begitu diharapkan terjadi penguatan ekonomi masyarakat pedesaan yang berdampak pada kemandirian masyarakat desa. Maka dari itu harus adanya revitalisasi modal sosial di kalangan masyarakat khususnya di desa Sumberjaya. Revitalisasi adalah suatu proses atau cara dan perbuatan untuk menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya terperdaya atau kaku menjadi hidup kembali[4]. Revitalisasi modal sosial berarti menghidupkan lagi atau memperbaharui modal sosial yang ada di kalangan masyarakat desa Sumberjaya, agar dapat meningkatkan pembangunan desa nya terutama pembangunan ekonomi di desa tersebut.
Hal tersebut tidak terlepas dari peranan modal sosial yang ada di dalam masyarakat yang membuat masyarakat desa bersedia berpartisipasi dalam pembangunan di desanya. Karena itu anggapan yang mengatakan bahwa pembangunan hanya butuh modal ekonomi dan modal fisik semata tidaklah tepat. Pada era otonomi daerah ini partisipasi masyarakat menjadi unsur penting keberhasilan pembangunan, baik di tingkat nasional, daerah maupun di tingkat desa.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Madekhan Ali, bahwa Otonomi Desa adalah kemandirian pemerintahan dan masyarakat desa dalam menyampaikan aspirasi, merencanakan kegiatan, menggali dana, mendanai pembangunan, dan mengontrol kegiatan pembangunan desa[5]. Karena itu keberadaan modal sosial didalam masyarakat harus didayagunakan dan dioptimalkan. Karena sesungguhnya dalam setiap masyarakat pasti memiliki modal sosial hanya saja sudah lama tidak difungsikan karena sistem sentralisasi yang dianut Orde Baru mengharuskan segala sesuatu harus mengikuti apa yang berasal dari pusat. Dari pernyataan tersebut bisa di simpulkan maka harus adanya revitalisasi terhadap modal sosial bagi kalangan masyarakat sehingga modal sosial yang tadinya tidak difungsi karena kebijakan pemerintahan Orde baru, dapat dioptimalisasikan pada kepemerintahan demokrasi sekarang ini. Hanifan mendefinisikan modal sosial sebagai kenyataan yang dimiliki warga, dapat berupa kehendak baik, simpati, persahabatan, hubungan sosial antar individu & keluarga yang dapat membantu mengatasi persoalan warga masyarakat. Dalam konteks demikian, hubungan yang baik antar anggota masyarakat menciptakan jaringan yang bersifat mutualis, dan bahkan mengalahkan individualitas, yang biasanya melingkupi karateristik budaya barat.
Modal sosial yang berwujud norma-norma dan jaringan keterkaitan tersebut merupakan prakondisi bagi perkembangan ekonomi, dan prasyarat mutlak bagi terciptanya tata pemerintahan yang baik dan efektif. Dengan demikian modal sosial merupakan prasyarat bagi keberhasilan pembangunan. Hal ini lah yang coba akan dilihat pada masyarakat desa Sumberjaya. Kemajuan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang dicapai tidak terlepas dari keberadaan modal sosial yang mereka miliki.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis memiliki ketertarikan untuk menganalisis lebih lanjut terkait modal sosial sebagai salah satu komponen untuk dapat membangun ekonomi desa khususnya di desa Sumberjaya dengan judul yang diangkat yaitu :
”REVITALISASI MODAL SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DESA”  (Studi Kasus Desa Sumberjaya kecamatan Talang Padang kabupaten Tanggamus).
2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka secara khusus pembahasan penelitian yang menjadi pokok permasalahan sebagai berikut:
a.       Bagaimana peranan revitalisasi modal sosial yang ada di desa Sumberjaya sehingga bisa meningkatkan pembangunan ekonomi desa Sumberjaya?
b.      Apakah ekonomi masyarakat di desa Sumberjaya menjadi lebih baik karena adanya revitalisasi modal sosial?
3.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
a.       Untuk mengetahui peranan revitalisasi modal sosial terhadap pembangunan ekonomi desa Sumberjaya.
b.      Untuk mengetahui pengaruh revitalisasi model sosial terhadap ekonomi masyarakat desa Sumberjaya secara langsung.
c.      Untuk mengembangkan potensi modal sosial yang dimiliki masyarakat desa Sumberjaya agar dapat membangun perekonomian desa Sumberjaya.

4.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :
a.      Secara teoritis hasil penelitian ini memberikan wawasan mengenai peranan dan pengaruh serta keuntungan revitalisasi modal sosial terhadap pembangunan ekonomi desa. Dan memberikan sumbangan pemikiran dan pengetahuan tentang pemberdayaan modal sosial yang di miliki semua masyarakat khususnya masyarakat desa Sumberjaya agar dapat memanfaatkan modal sosialnya untuk pembangunan ekonomi di desa tersebut.
b.      Secara praktis dapat memberi manfaat bagi Masyarakat umum mengenai modal sosial yang diperbaharui guna untuk membangun ekonomi desa di berbagai daerah khususnya di desa Sumberjaya. Dengan adanya revitalisasi atau pembaharuan modal sosial di kalangan masyarakat maka akan menyadarkan masyarakat itu sendiri bahwa modal yang dimiliki diri sendiri juga dapat membangun perekonomian nya serta perekonomian desa dan juga masyarakat dapat mengoptimalkan modal sosial yang mereka miliki agar pembangunan ekonomi desa berjalan baik.
5.      Metode penelitian
1.      Pendekatan Penelitian
Penelitian skripsi ini penulis menggunakan metode pendekatan secara kualitatif. Metode kualitatif yaitu penelitian yang sifatnya subyektif berdasar pada pemahaman/penilaian dari masing-masing orang yang berbeda-beda, karena penelitian ini ditujukan untuk mengetahui secara mendalam. Penelitian kualitatif berdasarkan atas fakta-fakta yang ada, sehingga penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat suatu prediksi tertentu[6]. Metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk maksud deskriptif atau memaparkan suatu objek masalah ini bertujuan untuk menjelaskan, mengungkapkan dan untuk mendapatkan deskripsi yang tepat mengenai pengaruh atau revitalisasi modal sosial masyarakat desa Sumberjaya terhadap pembangunan ekonomi di desa tersebut. Metode kualitatif deskriptif ini berupaya mengungkapkan fenomena sosial politik dengan jelas dan cermat. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber primer dan juga sekunder yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan dan dokumen-dokumen yang mendukung peryataan informan.
Jenis Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan  yaitu penelitian yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial baik individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat. Penelitian ini menggali data yang bersumber dari lokasi di desa Sumberjaya. Menurut tujuan bidangnya bahwa penelitian ini termasuk ke dalam penelitian pembangunan ekonomi.
2.      Sifat Penelitian
Metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk maksud deskriptif atau memaparkan suatu objek masalah ini bertujuan untuk menjelaskan, mengungkapkan dan untuk mendapatkan deskripsi yang tepat mengenai pengaruh atau revitalisasi modal sosial masyarakat desa Sumberjaya terhadap pembangunan ekonomi di desa tersebut. Metode kualitatif deskriptif ini berupaya mengungkapkan fenomena sosial politik dengan jelas dan cermat. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber primer dan juga sekunder yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan dan dokumen-dokumen yang mendukung peryataan informan.
3.      Sumber Data
Untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperoleh dalam penelitian ini, penulis menggunakan data sebagai berikut:
a.      Data primer, adalah data yang diperoleh langsung dari personel dan dapat pula dari lapangan.[7] Data primer dalam penelitian ini diperoleh langsung dari lokasi penelitian yaitu di desa Sumberjaya kec.Talang Padang kab. Tanggamus.
b.      Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari studi kepustakaan antara lain mencakup dokumen-dokumen resmi, dan buku-buku.[8] Data sekunder berasal dari internal didapat melalui data-data di kantor kelurahan desa Sumberjaya dan yang bersifat eksternal adalah dapat melalui sumber-sumber di luar organisasi daerah yang dipublikasikan misalnya dari kantor Badan Pusat Statiskit wilayah tersebut dan juga jurnal, artikel, majalah, dan internet. Dalam hal ini yang berkaitan dengan variabel-variabel data yang dibutuhkan penelitian.



4.      Teknik Pengumpulan Data
a.      Metode Angket / Kuisioner
Angket / kuisioner merupakan penyelidikan mengenai suatu masalah yang banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak)dengan jalan mengedarkan formulir daftar pertanyaan, diajukan secara tertulis kepada subjek, untuk mendapatkan jawaban (tanggapan,respon). Metode ini digunakan untuk mengetahui tanggapan masyarakat di desa Sumberjaya kecamatan Talang Padang kabupaten mengenai modal diri atau modal sosial yang mereka miliki. Bentuk kuisioner yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner dengan perntanyaan terbuka  dimana kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi mengemukakan pendapatnya. Kuesioner terbuka disusun apabila macam jawaban pengisi belum terperinci dengan jelas sehingga jawabannya akan beraneka ragam. Keterangan tentang alamat pengisi, tidak mungkin diberikan dengan cara memilih pilihan jawaban yang disediakan. Kuesioner terbuka juga digunakan untuk meminta pendapat seseorang.[9]
Teknik ini dipilih peneliti agar nantinya didapat data valid mengenai revitalisasi modal sosial dalam pembangunan ekonomi desapengaruh dari pertanyaan yang dijawab oleh responden.
Adapun skala pengukuran yang dipakai adalah skala Likert. Skala jenis ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju atau dari sangat positif sampai negatife. Skala likert pada penelitian ini meliputi :
Jawaban a : sangat setuju
Jawaban b : setuju
Jawaban c : tidak setuju
Jawaban d : sangat tidak setuju

b.      Observasi
Observasi merupakan proses untuk memperoleh data dari tangan pertama dengan mengamati orang dan tempat pada saat dilakukan penelitian[10]. Observasi yang penulis lakukan adalah dengan melihat atau mengamati secara langsung revitalisasi modal sosial terhadap pembangunan ekonomi desa.

c.       Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dimana pewawancara (peneliti atau yang diberi tugas melakukan pengumpulan data) dalam mengumpulkan data mengajukan suatu pertanyaan kepada yang diwawancarai.[11] pada praktiknya penulis menyiapkan daftar pertanyaan untuk diajukan secara langsung kepada kepala desa setempat dan juga masyarakat desa tersebut.
d.      Dokumentasi
Dokumentasi adalah tekhnik pengumpulan data yang tidak langsung pada subyek penelitian, namun melalui dokumen yang digunakan berupa pencatatan di kantor kelurahan setempat.
5.      Populasi dan Sampel
a.      Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peniliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[12] Dalam hal ini yang menjadi objek penelitian adalah perilaku masyarakat sebagai yang memiliki modal sosial agar dapat di optimalkan sehingga dapat membangun ekonomi desa tersebut.
b.      Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.[13] Sampel yang diambil adalah penelitian langsung ke masyarakat desa tersebut.
Dan teknik sampling yang digunakan adalah cluster area (area sampling) adalah teknik sampling daerah digunakan untuk menetukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data yang sangat luas. Seperti penduduk dari suatu negara, provinsi atau kabupaten.[14] Dengan menggunakan teknik sampling tersebut dengan menentukan sample daerah dan menentukan orang-orang yang ada pada daerah tersebut secara sampling juga.
6.      Analisis Data
Setelah kelanjutan dari pada kegiatan pengumpulan data yang telah didapat tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif. Menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu berupaya mengungkapkan fenomena dengan jelas dan cermat. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber primer dan juga sekunder yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan dan dokumen-dokumen yang mendukung peryataan informan[15].
7.      Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian data yang menggunakan metode kualitatif yaitu peneliti sebagai instrumen secara langsung. Dimana peneliti mencari data secara langsung dan mewawancarai responden secara langsung juga dengan menggunakan alat-alat yang harus disiapkan misalnya seperti buku catatan, tape recorder ataupun video dll.







DAFTAR PUSTAKA
Amirudin dan Zainal Asikin. 2003. Pengantar Metode Penelitian Hukum. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Arsyad Lincolin. 1997. Ekonomi Pembangunan. FE-UGM:Yogyakarta.
Kaloh J.  2007. Mencari Bentuk otonomi Daerah, Suatu Solusi Dalam Menjawab Kebutuhan Lokal Dan Tantangan Global.Jakarta: Rhineka Cipta.
Kartini Kartno. 1986. Pengantar Metode Riset Sosial. Bandung: Alumni.
Sugiyono. 2003. Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada:  Jakarta.
Tarigan Robinson. 2005. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Medan: PT Bumi Aksara.
http:// Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online.html
http:// Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html
http://www.artikelbagus.com/2011/08/penggolongan-tehnik-non-tes kuesionerquestionair.html#ixzz3TFM8t7QR (05 Januari 2016).








[1] Kaloh J.  Mencari Bentuk otonomi Daerah, Suatu Solusi Dalam Menjawab Kebutuhan Lokal Dan Tantangan Global.Jakarta: Rhineka Cipta.2007. Hlm.5
[2] Ibid. Hlm. 10
[3] Robinson Tarigan. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Medan: PT Bumi Aksara. Hlm.170
[4]  http:// Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online.html
[5]Lincolin Arsyad. Ekonomi Pembangunan. FE-UGM:Yogyakarta.1997. Hlm.198

[6] http:// Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html
[7] Kartini Kartno. Pengantar Metode Riset Sosial. Bandung: Alumni. 1986. Hlm 27
[8] Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,  2003,  hlm.  30
[9] Penggolongan Tehnik Non Tes : Kuesioner” (On-Line), tersedia di http://www.artikelbagus.com/2011/08/penggolongan-tehnik-non-tes kuesionerquestionair.html#ixzz3TFM8t7QR (08 Januari 2016)


[10] Sugiyono. Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,  2003. Hlm. 197
[11] Ibid. Hlm. 188
[12] Ibid. Hlm. 119
[13]Ibid. Hlm. 120
[14] Ibid. Hlm. 124
[15] Ibid. Hlm. 125

0 Response to "REVITALISASI MODAL SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DESA"

Post a Comment