PENGARUH ZAKAT PRODUKTIF TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT BIMA SAKTI KEC.NEGERI BESAR KAB. WAY KANAN

Loading...
Loading...
Tugas individu
PROPOSAL
Dosen pengampuh: Hj. Mardhiyah Hayati,S.P.,M.S.I
PENGARUH ZAKAT PRODUKTIF TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT BIMA SAKTI KEC.NEGERI BESAR KAB. WAY KANAN


MAYMUNAH                                   1321040290/E


EKONOMI SYARI’AH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
IAIN RADEN INTAN
LAMPUNG
2015/2016

PENGARUH ZAKAT PRODUKTIF TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT BIMA SAKTI KEC.NEGERI BESAR KAB. WAY KANAN
A.    Latar belakang masalah
Adapun Zakat menurut etimologi berasal dari akar kata زكا – زكاء  (zaka – zakaa) yang berarti tumbuh, berkembang atau bertambah, kata yang sama yaitu   زكى (zaka) bermakna menyucikan atau membersihkan.[[1]] Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy  makna zakat menurut bahasa berasal dari kata  نام  (nama) yang berarti Kesuburan, طهرة (thaharah) berarti kesucian dan بركة (barakah) yang berarti keberkatan, atau dikatakan تزكية و  التطهير   (tazkiyah dan tathir) mensucikan.[[2]] Dari pengertian secara bahasa dapat diketahui bahwa zakat secara bahasa bisa bermakna tumbuh dan berkembang atau bisa bermakna menyucikan atau membersihkan. Sementara Didin Hafiduddin berpendapat bahwa zakat ditinjau dari segi bahasa bisa berarti (الصلاح   ) Ash-Shalahu yang berarti kebersihan.[[3]]
Sedangkan menurut terminology (syara’) zakat adalah sebuah aktifitas (ibadah) mengeluarkan sebagian harta atau bahan makanan utama sesuai dengan ketentuan Syariat yang diberikan kepada orang-orang tertentu, pada waktu tertentu dengan kadar tertentu.[[4]]


Dasar Hukum
         Di antara dalil yang menjadi dasar hukum bagi pendistribusian zakat adalah Firman Allah Subhanahu wata'ala dalam QS At-Taubah ayat 60 : 
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Ayat berikutnya adalah dalam QS Ar-Rum ayat 38.
فَئَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah, dan mereka itulah orang-orang beruntung
Adapun dalil dari As-Sunnah atau Hadits adalah sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam sebuah haditsnya :
عَنْ ابْنِ عَبّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُما: أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم بَعَثَ مُعَاذاً إِلَى لْيَمَنِ ـ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ ـ وَفِيْهِ: "إنَّ الله قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمِ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ، فَتُرَدُّ فُقَرَائِهِمْ". مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ.
Dari Ibnu Abbas ra. Bahwasanya Nabi saw. pernah mengutus Muadz ke Yaman , Ibnu Abbas menyebutkan hadits itu, dan dalam hadits itu beliau bersabda : Sesungguhnya Allah telah memfardhukan atas mereka sedekah (zakat) harta mereka yang di ambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. HR  Bukhary dan Muslim, dengan lafadz Bukhary.[[5]]
Zakat produktif adalah zakat yang diberikan kepada fakir miskin berupa modal usaha atau yang lainnya yang digunakan untuk usaha produktif yang mana hal ini akan meningkatkan taraf hidupnya, dengan harapan seorang mustahiq akan bisa menjadi muzakki jika dapat menggunakan harta zakat tersebut untuk usahanya. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Nabi, dimana beliau memberikan harta zakat untuk digunakan shahabatnya sebagai modal usaha. Hal ini seperti yang disebutkan oleh Didin Hafidhuddin[[6]] yang berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yaitu ketika Rasulullah memberikan uang zakat kepada Umar bin Al-Khatab yang bertindak sebagai amil zakat seraya bersabda :
"خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ, أَوْ تَصَدَّقْ بِهِ, وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا اَلْمَالِ, وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ, وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ".   رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Ambilah dahulu, setelah itu milikilah (berdayakanlah) dan sedekahkan kepada orang lain dan apa yang datang kepadamu dari harta semacam ini sedang engkau tidak membutukannya dan bukan engkau minta, maka ambilah. Dan mana-mana yang tidak demikian maka janganlah engkau turutkan nafsumu. HR Muslim.[[7]]
Kalimat فَتَمَوَّلْهُ   (fatamawalhu)  berarti mengembangkan dan mengusahakannya sehingga dapat diberdayakan, hal ini sebagai satu indikasi bahwa harta zakat dapat digunakan untuk hal-hal selain kebutuhan konsumtif, semisal usaha yang dapat menghasilkan keuntungan. Hadits lain berkenaan dengan zakat yang didistribusikan untuk usaha produktif adalah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, katanya :
أن رسولَ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم لم يكون شيئا علي اللإسلام إلا أعطاه, قال : فأتاه رجل فساله, فامر له بشاء كثير بين جبلين من شاء الصدقة, قال : فرجع إلي قومه فقال : يا قوم أسلموا فإن محمد يعطي عطاء من يخشى الفاقة ! رواه أحمد بإسناد صحيح
Bahwasanya Rasulallah tidak pernah menolak jika diminta sesuatu atas nama Islam, maka Anas berkata "Suatu ketika datanglah seorang lelaki dan meminta sesuatu pada beliau, maka beliau memerintahkan untuk memberikan kepadanya domba (kambing) yang jumlahnya sangat banyak yang terletak antara dua gunung dari harta shadaqah, lalu laki-laki itu kembali kepada kaumnya seraya berkata " Wahai kaumku masuklah kalian ke dalam
Islam, sesungguhnya Muhammad telah memberikan suatu pemberian yang dia tidak takut jadi kekurangan !" HR. Ahmad dengan sanad shahih.[8]








B.     Rumusan Masalah
Zakat merupakan salah satu instrumen yang strategis dalam upaya menurunkan angka kemiskinan. Zakat mempunyai fungsi yaitu tidak hanya menyantuni orang miskin secara konsumtif, tetapi juga untuk menunjang hidup di dunia dan menunjang kesejahteraan sosial ekonomi. Zakat merupakan kegiatan pendistribusian pendapatan (transfer of income), zakat mempertemukan pihak surplus pendapatan dengan pihak defisit pendapatan. Zakat juga mempunyai tujuan akhir yaitu mengubah seorang mustahik menjadi muzakki.Zakat yang diberikan kepada mustahik sebagai pendukung peningkatan pendayagunaan zakat produktif. Pengembangan zakat produktif ini dalam bentuk sebagai modal usaha. Konsep ini dikembangkan karena usaha mikro mustahik tidak mampu untuk mengakses modal ke lembaga keuangan formal seperti bank,perbankan dan lain-lain. Padahal usaha mikro mustahik tersebut memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Usaha mikro mustahik tersebut bersifat feasible but non bankable.
Rumah Zakat merupakan lembaga amil zakat sebagai sarana alternatif yang dapat membantu sektor Usaha Mikro dalam bidang permodalan. Beberapa penyaluran dana zakat produktif telah dilaksanakan oleh Rumah Zakat, tetapi dalam realisasinya masih terdapat kendala dalam pengaplikasiannya yaitu masih belum optimalnya penyaluran dana zakat produktif yang disalurkan karena masih adanya pihak mustahik yang menggunakan dana bantuan sebagai pemenuhan kebutuhan konsumtif.
Dengan demikian, penelitian ini dimaksudkan untuk dapat memulai mengumpulkan dana zakat dengan maksut yakni untuk mempengaruhi kondisi sosial ekonomi mustahik.[9] Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diajukan pertanyaan penelitian:
1.      Bagaimana sistem penghimpunan, pengelolaan dan pemberdayaan dana zakat yang dilakukan oleh badan amil zakat?
2.      Bagaimana kesadaran masyarakat terhadap pembayaran zakat itu sendiri?
3.      Bagaimana pendayagunaan zakat bagi usaha produktif dalam syari'ah Islam?
4.      Bagaimana cara  pengaplikasikan dalam masyarakat?
C.    Tujuan dan Kegiatan Peneltian
a.       Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
a)      Untuk melihat dan mengetahui kesadaran masyarakat bima sakti dalam hal pembayaran zakat
b)      Untuk mengetahui cara penghimpunan zakat oleh badan amil zakat
b.      Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah:
a)      Kegunaan Akademis
Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bahwa ekonomi islam dapat berperan dalam perekonomian, terutama terkait dengan pemberantasan kemiskinan dan penurunan angka pengangguran. Sebagai aplikasi dari ekonomi islam, sehingga dapat lebih mengembangkan ekonomi islam.
b)      Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi badan amil zakat Bima sakti, dengan menjadikan penelitian ini sebagai solusi atas permasalahan yang terkait dengan masalah pemberdayaan masyarakat.Masyarakat dapat memberikan solusi sebagai solusi atas permasalahan yang terkait dengan masalah ekonomi.
c)      Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai gambaran mengenai sistem tata kelola Badan Amil Zakat desa bima sakti dengan harapan bisa menjadi masukan bagi pemerintah daerah way kanan dalam menetukan regulasi tentang zakat yang kini sedang dalam masa pembahasan.
d)     Pihak lain
Manfaat penelitian ini bagi pihak lain adalah untuk memberi informasi atau pengetahuan tentang penyaluran dana zakat produktif, serta dapat memberi masukan dan referensi untuk mengambil keputusan mengenai penyaluran bagi orang yang mau menyalurkan dana zakatnya.
D.    Metode penelitian
a)      Metode dan alasan menggunakan metode kualitatif
Alasan menggunakan metode kualitatif karena, masalah yang akan di teliti belum jelas holistik, kompleks, dinamis danpenuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut dijaring menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan instrumen seperti test, kuesioner, pedoman wawancara. Selain itu peneliti bermaksud memahami situasi sosial secara mendalam, menemukan pola, hipotesis dan teori.
b)      Tempat penelitian
Tempat dan lokasi yang akan di teliti adalah desa bima sakti kec.negeri besar kab. Way kanan.
c)     Instrumen penelitian
Pada bagian ini yang akan menjadi instrumen penelitian adalah penelitinya sendiri.



[1] Abu Bakar Muhammad, Tereamahan  Subul As-Salam II, Al-Ikhlash : Surabaya, 1991, hal. 479.
[2]  Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat, Bulan Bintang, Jakarta, 1987, hal. 24.
[3] Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern, Cet. II. Gema Insani Press, Jakarta. hal.
[4] Anonimus, Pedoman Manajemen Zakat, BAZISKAF PT TELKOM Indonesia, 1997, hal. 30.
[5] Abu Bakar Muhammad, Tereamahan  Subul As-Salam II, Al-Ikhlash : Surabaya, 1991, hal. 479.
[6] Abdurrachman Qadir . Zakat (Dalam Dimensi Mahdah dan Sosial), ed. 1, cet. 2. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001, h .24.2.
[7] Abu Bakar Muhammad (Penerjemah) Terjemahan Subulus Salam II. hal. 588
[8] Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah,  hal. 106
[9] Pendayagunaan Zakat Dalam Rangka Pembangunan Nasional, op.cit. hal. 61-62.

0 Response to "PENGARUH ZAKAT PRODUKTIF TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT BIMA SAKTI KEC.NEGERI BESAR KAB. WAY KANAN"

Post a Comment